Biografi Otto Iskandardinata, Sang Pahlawan Nasional 

2 min read

Otto Iskandardinata

Kalau kamu lagi pegang uang sekarang coba liat deh siapa nama orang yang ada di uang tersebut. Kalau seratus ribu ada Soekarno dan Moh Hatta, uang seribu yang lama ada Kapiten Patimura. Nama-nama yang jelas udah kamu kenal banget kan.

Coba liat di pecahan dua puluh ribu? Nah nama orang yang ada di situ adalah Otto Iskandardinata. Mungkin kamu juga udah familiar sama nama ini ya karena sering melihatnya di pecahan uang dua puluh ribu. Tapi kamu tahu nggak siapa sih sosok tersebut?

Nah kali ini kita bakal kenalan lebih jauh nih dengan profil dan biografi sosok ini, Otto Iskandardinata. Yuk simak aja langsung uraiannya di bawah ini.

Biodata Otto Iskandardinata

Nama lengkap: R. Otto Iskandardinata

Tempat Lahit: Bojongsoang, Bandung

Tanggal lahir: Rabu, 31 Maret 1897

Warga Negara: Indonesia

Nama ayah: Raden Haji Rachmat Adam

Nama ibu: Nyi Raden Siti Hatijah

Istri: Soekirah

Biografi Otto Iskandardinata

biografi otto iskandardinata
sumber: kitabelajar.github.io

Ia lahir pada tanggal 31 Maret 1897 di Bojongsoang Kabupaten Bandung. Ayah Otto adalah seorang bangsawan yang bernama Raden Haji Rachmat Adam berketurunan sunda bernama Nataatnadja. Otto merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara. 

Sejak kecil Otto telah menunjukkan karakteristik sebagai anak yang nakal tetapi jujur dan berterus terang. Berani menyatakan secara spontan mana yang benar dan mana yang salah. Sepakbola menjadi hobinya bahkan sampai ia dewasa. Ia juga pernah menjadi  Ketua Umum Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (Persib).

Masa Kecil dan Pendidikan Otto Iskandardinata

Ia menempuh pendidikan dasarnya di HIS (Hollandsch Inlandsche School). Kemudian melanjutkannya di Kweekschool Onderbouw atau sekolah Keguruan bagian Pertama di Bandung. Setelah lulus ia melanjutkan sekolahnya di Sekolah Guru Atas di Purworejo. 

Di sekolah inilah Otto tumbuh sebagai anak dewasa dan mulai gemar membaca. Bacaannya adalah  buku dan surat kabar yang berbau politik. Surat kabar kesukaan Otto adalah De Express yang dipimpin Dr. Douwes Dekker (Dr. Setiabudi) yang isinya seringkali mengecam pemerintah Hindia Belanda. Semua murid Sekolah Guru Atas sebenarnya dilarang membaca surat kabar, akan tetapi Otto sering menyembunyikan surat kabar tersebut di bawah bantalnya dan membacanya secara sembunyi-sembunyi. Dari kegemarannya membaca, Otto mulai tertarik pada masalah kemasyarakatan, kebangsaan dan perjuangan bangsa.

Karir Otto Pada Masa Sebelum Kemerdekaan

Otto dan Budi Utomo
sumber: goodnewsfromindonesia.id

Otto pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung pada periode 1921-1924 dan Wakil Ketua Budi Utomo cabang Pekalongan tahun 1924. Ketika itu, ia menjadi anggota Gemeenteraad (“Dewan Kota”) Pekalongan mewakili Budi Utomo.

Oto juga aktif pada organisasi Budaya Sunda bernama Paguyuban Pasundan. Ia menjadi Sekretaris Pengurus Besar tahun 1928, dan menjadi ketuanya pada periode 1929-1942. Organisasi tersebut bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan.

Pada masa penjajahan Jepang, Otto menjadi Pemimpin surat kabar Tjahaja (1942-1945). Ia kemudian menjadi anggota BPUPKI dan PPKI yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai lembaga-lembaga yang membantu persiapan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Kemerdekaan

Setelah proklamasi kemerdekaan, Otto menjabat sebagai Menteri Negara di kabinet pertama Republik Indonesia tahun 1945. Ia bertugas mempersiapkan terbentuknya BKR dari laskar-laskar rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam periode tugasnya, terdapat ketidakpuasan pada salah satu laskar. Otto menjadi korban penculikan sekelompok orang yang bernama Laskar Hitam.

Tahun 1945, Otto menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan duduk pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam sidang PPKI tanggal 19 Agustus 1945, Otto yang mengusulkan agar Sukarno dipilih menjadi Presiden dan Hatta sebagai Wakil Presiden, kemudian semua anggota sidang menyetujui usulan tersebut secara aklamasi.

Otto juga merupakan orang yang menganjurkan dan sekaligus menggunakan pekik nasional “Indonesia Merdeka” dengan mengangkat tangan kanannya. Oleh karena pekik tersebut dirasa terlalu panjang, maka kemudian oleh beberapa teman dianjurkan untuk disingkat menjadi satu patah kata saja, yaitu “Merdeka’. Salam nasional tersebut yang membangkitkan semangat para pejuang kemerdekaan saat itu.

Pasca Indonesia merdeka, Otto diangkat menjadi Menteri Keamanan Negara yang pertama. Pada saat menjabat, ia menghilang penuh misteri pada akhir tahun 1945. Pada tahun 1959 terdengar berita ia dibunuh di Pantai Mauk, Tangerang. Jenazah Otto tidak berhasil diketemukan sampai sekarang, demikian pula penyebab kematiannya masih belum dapat diungkapkan secara pasti.

Akhir Hayat Otto Iskandardinata dan Gelar Pahlawan Nasional

Otto iskandar dinata masa akhir
sumber: sejarahone.id

Setelah kejadian penculikan itu tidak ada kabar lagi dan beredar berita bahwa dirinya dibunuh di daerah Banten pada Desember 1945. Sebagai bentuk penghormatan ia diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Selain itu juga di daerah Bandung didirikan sebuah monumen Pasir Pahlawan untuk mengabadikan perjuangan dari Otto Iskandardinata. Selain itu namanya juga digunakan di beberapa jalan dan sekarang bisa dilihat nama dan wajahnya terdapat pada mata uang dua puluh ribuan untuk mengenang jasa dan perjuangannya.

Referensi:

Biografi Singkat Raden Otto Iskandardinata, Sang Jalak Harupat dari Indonesia | Limapagi

Profil – R. Otto Iskandardinata – merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.