Biografi Dewi Sartika, Sang Perintis Pendidikan Wanita asal Bandung

2 min read

Dewi Sartika

Kita bisa menikmati enaknya sistem pendidikan seperti sekarang ini jelas karena perjuangan orang terdahulu ya sob. Pelajaran yang dipelajari bermacam-macam dan siapapun bisa masuk ke sekolah, nggak seperti zaman dahulu yang hanya menerima kaum bangsawan ataupun atasan. Penduduk pribumi pada zaman dulu kesulitan untuk mendapatkan pendidikan.

Maka dari itu orang seperti Ki Hajar Dewantara menjadi tombak untuk membuka jalan supaya semua orang berhak mendapatkan pendidikan. Tidak hanya beliau, RA Kartini juga mengusahakan hal yang sama yaitu menyetarakan perempuan dengan laki-laki, memperjuangkan bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan.

Tapi kalian tahu nggak sih ternyata nggak hanya dua tokoh itulah yang berjuang dalam bidang pendidikan. Ada tokoh lain yaitu Dewi Sartika. Biar lebih jelas lagi yuk simak biografi dan profil tokoh satu ini.

Biodata Dewi Sartika

Nama lengkap: Raden Dewi Sartika

Lahir: 4 Desember 1884. Cicalengka, Bandung, Jawa Barat

Meninggal: 11 September 1947 (umur 62). Cineam, Tasikmalaya, Jawa Barat

Kebangsaan: Indonesia

Dikenal sebagai: Pahlawan Nasional; Perintis pendidikan wanita

Suami: Raden Kanduruhan Agah Suriawinata

Biografi Dewi Sartika

Biografi dewi Sartika
sumber: kepogaul.com

Dewi Sartika lahir dari keluarga Sunda yang ternama yaitu R. Rangga Somanegara dan R. A. Rajapermas di Cicalengka pada tanggal 4 desember 1884. Ayahnya bernama Raden Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Terakhir, sang ayah dihukum buang ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal dunia di sana. Ibunya bernama Nyi Raden Ayu Rajapermas.

Masa Kecil Dewi Sartika

Ketika masih kanak-kanak, ia selalu bermain peran menjadi seorang guru ketika seusai sekolah bersama teman-temannya. Setelah ayahnya meninggal, ia tinggal bersama dengan pamannya. Ia menerima pendidikan yang sesuai dengan budaya Sunda oleh pamannya, meskipun sebelumnya ia sudah menerima pengetahuan mengenai budaya barat. Pada tahun 1899, ia pindah ke Bandung.

Bersekolah untuk perempuan pada waktu itu adalah hal yang melanggar adat. Namun orang tuanya bersikukuh untuk tetap menyekolahkan Dewi Sartika. Dari pamannya ia mendapatkan pendidikan mengenai kesundaan sedangkan wawasan barat diperolehnya dari didikan seorang nyonya Asisten Residen Belanda pada waktu itu. 

Riwayat Pendidikan Dewi Sartika

Dewi Sartika dan pendidikan
sumber: toetoer.com

Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan.

Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar. Raden Dewi Sartika yang mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di Cicalengka, sejak kecil memang sudah menunjukkan minatnya di bidang pendidikan. Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan.

Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan. Berpikir agar anak-anak perempuan di sekitarnya bisa memperoleh kesempatan menuntut ilmu pengetahuan, maka ia berjuang mendirikan sekolah di Bandung, Jawa Barat. Ketika itu, ia sudah tinggal di Bandung.

Mendirikan Sekolah Bernama Isteri

Pada 16 Januari 1904, ia membuat sekolah yang bernama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung. Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910. Ia bisa mendirikan sekolah ini karena bantuan dari R.A.A. Martanegara, kakeknya dan Den Hamer yang menjabat Inspektur Kantor Pengajaran ketika itu. 

Awalnya, muridnya hanya dua puluh orang. Murid-murid yang hanya wanita itu diajar berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam dan pelajaran agama. Murid- murid bertambah banyak, bahkan ruangan Kepatihan Bandung yang dipinjam sebelumnya juga tidak cukup lagi menampung murid-murid.

Untuk mengatasi hal ini akhirnya sekolahnya dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Seiring dengan berjalannya waktu, enak tahun sejak pertama kali berdiri, nama Sekolah Isteri diubah menjadi Sekolah Keutamaan Isteri. Mata pelajarannya pun juga bertambah. 

Penghargaan Dari Hindia Belanda dan Akhir Hayat Dewi Sartika

Penghargaan dewi sartika
sumber: lezgetreal.com

Sekolah Keutamaan Isteri kemudian berubah nama lagi menjadi Sakola Raden Dewi. Karena jasanya ini Dewi Sartika pada waktu itu mendapatkan bintang dan penghargaan dari pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1906 seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama yaitu Raden Kanduruan Agah Suriawinata menikah dengan Dewi Sartika. 

Dewi Sartika meninggal pada tanggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan makamnya dilakukan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali dan berpindah ke kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

Prestasi Dewi Sartika dalam memajukan pendidikan untuk kaum pribumi khususnya untuk kaum perempuan membuat pemerintah Indonesia menganugerahkan Dewi Sartika sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1966.

Referensi:

Biografi Dewi Sartika, Kisah Pahlawan Perintis Pendidikan Kaum Wanita | Biografiku.com

Dewi Sartika – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.